Implementasi Sistem Informasi – SDLC (System Development Life Cycle)

PENGEMBANGAN SISTEM JASA KONSULTASI BOTANI ONLINE
(Dengan Menggunakan Pendekatan System Development
Life Cycle (SDLC))

Apa itu SDLC?

SDLC didefnisikan oleh Departemen Kehakiman AS sebagai sebuah proses pengembangan software yang digunakan oleh systems analyst, untuk mengembangkan sebuah sistem informasi. SDLC mencakup kebutuhan (requirement), validasi, pelatihan, kepemilikan (user ownership) sebuah sistem informasi yang diperoleh melalui investigasi, analisis, desain, implementasi, dan perawatan software.Software yang dikembangkan berdasarkan SDLC akan meng hasilkan sistem dengan kualitas yang tinggi, memenuhi harapan penggunanya, tepat dalam waktu dan biaya, bekerja dengan efektif dan efsien dalam infrastruktur teknologi informasi yang ada atau yang direncanakan, serta murah dalam perawatan dan pengembangan lebih lanjut. SDLC merupakan pen dekatan sistematis untuk memecah kan masalah yang terdiri dari beberapa tahapan. Tiap-tiap tahapan dapat terdiri dari beberapa langkah berikut: 1. Konsep software ñ mengidentifkasi dan mendefinisikan kebutuhan akan sebuah sistem baru. 2. Analisis kebutuhan ñ menganalisis kebutuhan informasi dari pengguna .akhir sebuah system 3. Desain arsitektural ñ membuat blueprint desain berdasarkan spesifikasi utama, seperti hardware, software, pengguna, dan sumber data. 4. Coding dan debugging ñ membuat dan memprogram sistem. 5. Pengujian sistem ñ mengevaluasi fungsionalitas sistem aktual, dalam hubungannya dengan fungsionalitas yang diharapkan. Langkah-langkah dalam SDLC Tidak ada langkah baku dalam SDLC, tapi ketujuh langkah di bawah merupakan life cycle yang paling sering digunakan oleh para software developer profesional. 1. Studi kelayakan.Dilakukan oleh software developer dengan mempelajari konsep sistem yang diinginkan oleh pihak manajemen, apakah sistem baru tersebut realistis dalam masalah pembiayaan, waktu, serta perbedaan dengan sistem yang ada sekarang. Biasanya, dalam tahap ini diputuskan untuk meng-update sistem yang ada, atau menggantinya dengan yang baru. 2. Analisis. Pengguna dan software deve loper bekerja sama mengumpulkan, mempelajari, dan merumuskan kebutuhan-kebutuhan bisnis. 3. Desain. Pada langkah ini dilakukan pembuatan blueprint sistem. Di dalamnya termasuk penyesuaian dengan arsitektur telekomunikasi, hardware, dan software untuk pengembangan lebih lanjut, serta membuat model sistem ñ menciptakan model graphical user interface (GUI), database, dan lain-lain. 4. Pengembangan. Di sini, barulah para programmer melakukan coding untuk menerapkan desain ke dalam sistem yang sesungguhnya, membuat program,dan menyiapkan database. 5. Pengujian. Setelah sistem berhasil dikembangkan, langkah selanjutnya adalah pengujian untuk melihat apakah sistem telah sesuai dengan harapan dan kebutuhan pengguna. Dalam tahap ini, juga dilakukan debugging dan penyesuaian-penyesuaian akhir. 6. Implementasi. Pada tahap ini, software yang telah diuji siap diimplementasikan ke dalam sistem pengguna. Pembuatan user guide dan pelatihan juga dilakukan dalam tahap ini. 7. Perawatan. Perawatan dimaksudkan agar sistem yang telah diimplemantasikan dapat me ngikuti perkembangan dan perubahan apapun, yang terjadi guna meraih tujuan penggunaannya. Help desk untuk membantu pengguna, serta perubahan yang dianggap penting dapat dilakukan terhadap sistem dalam tahap ini.Jika memperhatikan langkah-langkah di atas, coding dan debugging yang selama ini menjadi pekerjaan utama software developer, hanyalah dua dari tujuh tahapan dalam SDLC. Di luar kedua langkah tersebut, SDLC lebih banyak berkutat pada urusan manajemen (non-teknis), yang mungkin kurang mendapat perhatian dari pada software deve loper.

ABSTRAK
Salah satu misi dari Kebun Raya Bogor adalah menyediakan
informasi yang relevan dan bermanfaat untuk seluruh lapisan
masyarakat seperti turis, peneliti, ilmuwan, mahasiswa, dosen,
praktisi, pebisnis, dan masyarakat umum. Artikel ini menjelaskan
pengembangan sistem jasa konsultasi online pada Kebun
Raya Bogor. Sistem didesain untuk memenuhi kebutuhan
fungsional dan mengeksplorasi sumber daya informasi yang
dimiliki lembaga termasuk untuk pengembangan pengetahuan
dalam bentuk artikel, buku, jurnal, majalah, dan makalah
ilmiah. Selain jasa perpustakaan, sistem juga menyediakan
konsultasi online langsung dengan para ahlinya. Prototipesistem telah diimplementasikan dan sebagian sudah dapatdiaplikasikan. Sistem direkomendasikan untuk diimplementasikansecara penuh dengan dukungan infrastruktur yang memadai, disertai perangkat kebijakan dan aturan yang jelas

.PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
yang makin cepat berdampak nyata pada perubahan
sikap dan perilaku masyarakat pengguna informasi dalam
pencarian informasi. Kecepatan dan ketepatan mendapatkan informasi merupakan tuntutan kebutuhan dankepuasan pengguna. Hal ini terlihat dari intensitas pengguna informasi dalam melakukan penelusuran lewat komputer, baik melalui jalur online maupun offline,sehingga pemanfaatan informasi dari sumber-sumber manual seperti katalog tercetak, bibliografi, indeks, dan buku cenderung menurun (Maksum dan Darmawiredja 2007).Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi
harus berjalan seiring dengan pesatnya kemajuanTIK serta kebutuhan informasi pengguna. Kecepatan
perkembangan pengetahuan harus mendapat reaksi yang cepat dan tepat dari perpustakaan sebagai organisasi pembelajaran, sehingga kedudukan perpustakaan menjadi sangat strategis. Kemajuan teknologi informasi(TI) menjanjikan kemudahan dalam manajemen pengetahuan
atau informasi, terutama bagi lembaga pengelola informasi. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia dan penyimpan informasi dan pengetahuan (information provider dan knowledge repository) harus dapat mengimbangi bahkan mengantisipasinya. Bila sebelumnya fungsi perpustakaan lebih terfokus pada penyediaan informasi dalam bentuk fisik, seperti dokumen tercetak,pada era TI perpustakaan dituntut untuk mampu menyediakan sumber-sumber informasi dalam bentuk terekam yang dioperasikan secara elektronis yang sarat dengan pengetahuan tidak terstruktur (Rufaidah 2007).Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan TI yang makin pesat serta tuntutan sistem layanan informasi modern yang makin kuat, Perpustakaan Kebun Raya Bogor (KRB) sebagai unit pelaksana
pengelola informasi KRB perlu menjawab tantangan tersebut untuk mendukung visi dan misi lembaga induknya. Seminar (2004) mengemukakan bahwa perpustakaan perlu menjawab tantangan global yang bertumpu pada keunggulan manajemen dan layanan modern untuk mendukung visi, misi, dan program pembangunan. Visi KRB yaitu menjadi kebun raya terbaik kelas dunia dalam bidang konservasi dan penelitian tumbuhan tropika, pendidikan lingkungan, dan pariwisata. Misi KRB yaitu melestarikan, mendayagunakan, dan mengembangkan potensi tumbuhan melalui kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, rekreasi, serta peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebun raya, tumbuhan, dan lingkungan dalam upaya pemanfaatan yang berkelanjutanuntuk kesejahteraan masyarakat.
Kebun Raya Bogor merupakan institusi konservasi ex situ tertua di Indonesia, berdiri sejak 18 Mei 1817.
KRB memiliki nilai sejarah tinggi sebagai tonggak dalam perkembangan institusi dan penelitian pertanian di Indonesia, dan merupakan pilar utama bagi usahapenyelamatan jenis-jenis tumbuhan dari kepunahan. Selain memberikan kesejukan dengan lahannya seluas87 ha, KRB juga memiliki aset berharga, antara lain: (1) koleksi aneka tumbuhan yang mencapai 3.413 spesies,1.261 genera, dan 223 famili; (2) pangkalan data koleksi tumbuhan sebanyak 14.225 spesimen; (3) pangkalandata karya tulis peneliti kebun raya berikut abstraknya tahun 1973-2005 sebanyak 1.211 artikel, (4) pangkalan
data koleksi buku yang meliputi 1.159 judul; (5) pangkalan data koleksi artikel sebanyak 3.047 artikel; (6)koleksi buku tua (antikuariat) dalam bidang botani dan perkebunrayaan yang berumur lebih dari 100 tahun sebanyak 22 judul; (7) dokumentasi foto dan CD lebih dari 100 judul; (8) sumber daya manusia berjumlah 354 orang, meliputi 43 orang peneliti (staf ahli), 311 orang tenaga fungsional lainnya serta tenaga administrasi; dan (9) laboratorium kultur jaringan yang cukup representatif
dan gedung exhibition anggrek yang bertaraf internasional.Potensi besar yang dimiliki KRB belum tersebarsecara luas karena sarana TI yang dimiliki belum dimanfaatkan
secara optimal. Walaupun saat ini KRB telah
memiliki situs sendiri, kandungan informasi (content)
dan fitur yang ditampilkan dalam situs sangat terbatas,hanya informasi umum mengenai KRB, belum menampilkan kekayaan atau sumber daya yang dimiliki. Selain itu,
walaupun telah ada fasilitas “kontak” bagi pengguna
atau masyarakat yang ingin mengetahui sumber dayaKRB dengan bertanya langsung, pengelolaannya belum terkoordinasi dengan baik dan dilakukan secara khusus Perpustakaan KRB sebagai lembaga yang bertugasmenyimpan, mengolah, dan menyebarluaskan informasi,
serta sebagai mitra peneliti berkepentingan untuk dapat
memberdayakan sumber pengetahuan yang dimiliki (knowledge resources) dengan menggali potensi yang
dimiliki, baik berupa materi tertulis (pengetahuan eksplisit)
maupun keahlian dan pengalaman para ilmuan(pengetahuan implisit). Untuk mempercepat dan memperlancar kegiatan tersebut diperlukan suatu sistem
informasi berbasis TIK. Dalam hal ini, perpustakaan
perlu membangun suatu sistem jasa konsultasi dengan
memanfaatkan internet yang memungkinkan pengguna
memperoleh informasi secara cepat dan akurat, serta fasilitas web yang memungkinkan informasi yang
dimiliki dapat diakses banyak orang dan dalam cakupan
geografi yang luas. Dengan demikian, pertukaran
pengetahuan dapat berjalan dengan cepat dan kinerja
institusi pun akan meningkat.

Teknologi Informasi sebagai Media Komunikasi dan Jasa
Dalam beberapa dekade terakhir, TI telah mengalami
perkembangan yang pesat sehingga memungkinkan
pengguna memperoleh segala bentuk informasi dengan
cepat dan akurat. Perkembangan TI mampu menyambungkan hampir semua komputer yang ada di dunia sehingga dapat saling berkomunikasi dan bertukar informasi.Perkembangan TI juga menyebabkan perubahan peran sistem TI itu sendiri dalam membantu operasi organisasi sehingga lebih efisien dan berperan dalam memenangkan kompetisi. Implementasi internet, electronic commerce,electronic data interchange, virtual office, telemedicine,intranet dan sebagainya telah menerobosbatas-batas fisik antarnegara. Dalam dunia perpustakaan,informasi, dan dokumentasi (pusdokinfo), TI didefinisikan
sebagai teknologi yang dibutuhkan untuk mengolah informasi. Secara khusus, komputer dan programdigunakan untuk mengkonversi, menyimpan, mengamankan,memproses, mengirimkan, dan menerima data,informasi, dan pengetahuan dari mana pun dan kapan pun.Penggabungan antara teknologi komputer dantelekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi dalamsistem informasi. Pengiriman data atau informasi yangpada zaman dahulu memakan waktu berhari-hari, kini
dapat dilakukan dalam hitungan detik (Indrajit 2002).

Perpustakaan Digital
Fenomena perpustakaan digital yang merebak di penghujung
tahun 1990 di Amerika Serikat dan Eropa Barat
merupakan pemicu semangat dan kegiatan penerapan TI
di bidang pusdokinfo pada berbagai belahan dunia.
Kemajuan pesat dalam TIK menimbulkan peluang sekaligus tantangan bagi berbagai pihak untuk menciptakaninstitusi penghimpun, pengelola, dan penyedia
informasi yang makin luas cakupannya dan makin beragam jenis jasanya. Saat ini perpustakaan digital
sebagai konsep dan aplikasi telah menjadi bagian yangtidak terpisahkan dari internet dan web (Pendit 2008).Konsep dan aplikasi perpustakaan digital mengandung
upaya perubahan, baik yang mendasar maupunyang sederhana. Perubahan digital bukan hanya merujuk
ke perubahan teknologi atau perubahan teknis,melainkan juga perubahan cara berpikir, pergeseran
paradigma, perubahan tingkah laku, dan penataan kembali
tata nilai. Perpustakaan digital memiliki ciri sebagai
berikut: (1) bukan merupakan entitas tunggal, (2) membutuhkan
teknologi yang dapat menghubungkan berbagai
sumber daya, (3) memungkinkan pengguna melihat
perpustakaan digital dan jasa informasi yang diberikan
sebagai satu kesatuan yang transparan, (4) bertujuan
menyediakan akses universal, dan (5) tidak dibatasipada wakil dokumen (document surrogates), tetapi juga berbagai bentuk digital yang tidak dapat diwujudkan dalam bentuk tercetak.
Perpustakaan digital mendukung kolaborasi dan
komunikasi formal dan informal, seperti halnya kolaborasi
peneliti dan staf perpustakaan KRB dalam memberikanjasa konsultasi botani online kepada masyarakat
luas. Bahkan Marchionini dan Maurer (1995) menyatakan bahwa perpustakaan digital memungkinkan
masyarakat ilmiah untuk berbagi sumber daya, waktu,energi, dan pengalaman bagi keuntungan bersama. Dimasa depan, perpustakaan digital akan menjadi sarana
berbagi sumber daya yang merupakan faktor penting
untuk mendukung pengajaran yang meliputi kemampuan
untuk berbagi data dan kumpulan data. Perpustakaan digital harus menawarkan kesempatan yang lebih besarbagi pengguna untuk menyimpan informasi. Sebagai
perpustakaan khusus bidang ilmu botani dan perkebunrayaan,
perpustakaan KRB perlu mendukung kegiatan
lembaga induknya dengan memanfaatkan TI untuk menyebar luaskan informasi.

Tipe-Tipe Pengetahuan
Pengetahuan pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua,
yaitu pengetahuan implisit dan pengetahuan eksplisit Pengetahuan implisit merupakan pengetahuan yang
berada dalam pikiran manusia, yang biasa diserap orang

lain melalui kolaborasi dan sharing (Nasseri 1996).
Pengetahuan eksplisit merupakan pengetahuan yang terdokumentasi
dalam berbagai bentuk, seperti laporan
penelitian, buku, artikel, makalah, paten, dan software,
atau dengan kata lain merupakan pengetahuan yang

sudah dapat dikemukakan dalam bentuk data, formula,
spesifikasi produk, manual, prinsip-prinsip umum, dan
sebagainya. Kedua tipe pengetahuan tersebut tidak dapat
dipisahkan dari pengetahuan individu dan pengetahuan
organisasi, bahkan saling berinteraksi satu sama lain.Kinerja bisnis lebih merupakan hasil dari perpaduan

antara pengetahuan implisit dan eksplisit individu dan
organisasi yang menjalankan suatu perusahaan.
Penerapan manajemen pengetahuan ke dalam

sistem perpustakaan dilakukan sebagai upaya meningkatkan
fungsi dan peran sistem perpustakaan menuju
virtual research center guna meningkatkan nilai tambah
informasi. Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis
untuk memfasilitasi proses penciptaan pengetahuanserta cara memperoleh, mengelola, dan menyebarkannya

dalam lingkungan technology base (Dewiyana
2004). Manajemen pengetahuan dari pakar, dalam
hal ini pengetahuan implisit dari para peneliti KRB,
sangat berperan dalam pengembangan sistem jasa
konsultasi online.Kekayaan pengetahuan yang dimiliki KRB perlu
diinformasikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Untuk menyebarkan informasi tentang kekayaan pengetahuan
tersebut, perpustakaan KRB berupaya membangun
suatu sistem jasa konsultasi botani onlinedengan memanfaatkan internet sebagai sarana pendukung,
dan fasilitas web yang memungkinkan informasi

dapat diakses banyak orang dan dalam cakupan geografi
yang luas. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun
sistem jasa konsultasi botani online dengan menggunakan
media komunikasi berbasis web.

METODE

Jasa konsultasi botani online yang akan diberikan kepada
pengguna berupa informasi yang telah dikemas dalam
bentuk yang sesuai dengan permintaan pengguna.

Kegiatan yang akan dilakukan dimulai dari menyeleksi
informasi dari berbagai sumber, mendata informasi yang
relevan, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan
kebutuhan pengguna dengan dilengkapi jawaban dari
para peneliti pakar KRB dalam bentuk informasi elektronis

Perpustakaan selain bertugas sebagai fasilitatoruntuk menghubungkan para ahli di lingkungan KRB dan
pengguna yang membutuhkannya, juga bertugas mengumpulkan
informasi yang relevan dari berbagai sumber,
mengirimkan jawaban dalam bentuk informasi elektronis
ke alamat e-mail pengguna atau melalui pos ke alamat

tinggal mereka. Diharapkan dengan terbentuknya sistem
ini, penyebarluasan informasi lebih efisien, mudah dan
cepat, sehingga dapat meningkatkan layanan perpustakaan
dan kinerja lembaga KRB.Beberapa tahapan pembangunan botani online
adalah persiapan dengan mengumpulkan materi untuk
pembuatan proposal, dilanjutkan dengan pengumpulan

data melalui studi literatur dan wawancara dengan para
peneliti. Setelah proposal disetujui, dilanjutkan dengan
diagnosis masalah dan penentuan tujuan, melakukan
perbandingan perkembangan web jasa konsultasi, dan pengumpulan data. Proses selanjutnya adalah pengembangan jasa konsultasi dengan membuat prototipe dan mengujinya, dilanjutkan dengan penyusunan laporan dan dokumentasi.Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan
sistem informasi botani online adalah System Development Life Cycle (SDLC)yang sudah dimodifikasi. Fasefase pada SDLC terdiri atas fase investigasi, analisissistem, desain sistem, dan implementasi sistem dengan tahapan disajikan pada Gambar 1.

a. Investigasi sistem, bertujuan untuk memperoleh gambaran dan pemahaman tentang permasalahan dan peluang yang dihadapi dalam pengembangan sistem jasa konsultasi botani online, yang hasilnya dituangkan dalam suatu kerangka kelayakan sistem (feasibility study). Pada tahap ini dilakukan pengkajian terhadap seluruh proses perencanaan dalam pengembangan sistem, meliputi aspek organisasi (fungsi dan komponen struktur hierarki organisasi), aspek operasional, yang berkaitan dengan prosedur, kewenangan, dan pengawasan kegiatan, aspek teknis, berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur dan sumber daya manusia, serta aspek ekonomis dalam kaitannya dengan kelayakan biaya dan untung-rugi sistem informasi yang dikembangkan.
b. Analisis sistem, bertujuan untuk memperoleh data tentang kebutuhan dan keinginan pengguna serta batasan kriteria sistem yang akan dibuat. Kemampuan sistem yang akan dibangun untuk mempertemukan kebutuhan pengguna dengan fungsi operasional sistem yang akan dikembangkan diketahui dengan melakukan identifikasi kebutuhan dan fungsional sistem.
c. Desain sistem, merupakan perancangan sistem secara logis maupun fisik yang hasilnya disusun dalam suatu spesifikasi sistem berdasarkan kebutuhan informasi pada tahap analisis sistem informasi. Aspek penting dalam tahap ini meliputi sumber masukan, desain proses, keluaran, kontrol manajemen data, manajemen dialog dan dasar pengetahuan. Hal yang juga perlu menjadi pertimbangan adalah ketersediaan perangkat keras, perangkat lunak, serta infrastruktur jaringan komunikasi.
d. Implementasi sistem. Pada tahapan ini dilakukan pengembangan prototipe sampai tahap interaksi sistem dengan pengguna informasi. Untuk memudahkan pengguna memanfaatkan sistem yang telah dirancang dengan SDLC akan disediakan antarmuka (interface) berbasis web sehingga pengguna dapat memanfaatkannya secara online.

KESIMPULAN DAN SARAN

Prototipe sistem jasa konsultasi Botani Online telah dibangun untuk mengeksplorasi sumber daya informasi yang dimiliki KRB, baik yang berbentuk pengetahuan eksplisit maupun implisit. Sistem dibangun dengan fiturfitur sebagai berikut: (1) menu home, sebagai navigasi pengguna untuk pindah ke halaman utama; (2) menu profil perpustakaan, memuat informasi mengenai sejarah perpustakaan KRB, visi dan misi perpustakaan KRB, layanan perpustakaan, tata tertib perpustakaan, (3) menu kontak, berisi informasi alamat perpustakaan KRB; dan (4) menu peneliti, berisi informasi bidang penelitian, kegiatan
yang sedang dilakukan, serta publikasi ilmiah dan populer yang dihasilkan. Submenu berisi login member, link ke situs yang lain, polling, kalender, dan fasilitas cari. Layanan konsultasi tersedia dalam tiga paket, yaitu informasi ekologi dan konservasi, hortikultura, dan
taksonomi. Dalam layanan konsultasi ini pengguna akan mendapatkan jawaban berbentuk informasi elektronis dari para peneliti dan atau pustakawan dalam bentuk artikel lengkap, katalog buku online yang relevan beserta daftar isinya. Jawaban lengkap akan dikirim kepada alamat e-mail pengguna. Penggunaan fasilitas web dan internet memungkinkan informasi dapat diakses banyak orang dan dalam cakupan geografi yang luas. Prototipe sistem jasa konsultasi Botani Online perlu disempurnakan dengan memanfaatkan dokumen multimedia seperti video, animasi/film, suara, selain gambar dan teks. Juga media video conference yang memungkinkan pertemuan pengguna dan peneliti secara virtual dan real time, sehingga layanan perpustakaan lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami. Untuk implementasi prototipe secara penuh, dibutuhkan dukungan infrastruktur serta kebijakan dan aturan yang jelas.

(sumber: http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/pp172084.pdf)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kebutuhan Akan Informasi

Persaingan di bidang bisnis pada masa sekarang meningkatkan kebutuhan manajemen akan informasi. Manajemen membutuhkan informasi yang akurat dan cepat yang disajikan dalam bentuk yang informatif sebagai dasar pengambilan keputusan. Informasi yang dibutuhkan berasal dari lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Penguasaan terhadap informasi yang berasal dari kedua lingkungan tersebut sangat penting dalam menentukan strategi yang tepat dalam persaingan bisnis yang sedang terjadi.

Informasi yang berasal dari lingkungan internal didapat dengan melakukan pemrosesan terhadap dokumen-dokumen yang digunakan sebagai pencatatan dan bukti transaksi yang terjadi. Menurut Chuck Williams dalam bukunya yang berjudul Manajemen, informasi akan bermanfaat jika akurat, lengkap, relevan, dan tepat waktu. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari informasi yang berasal dari lingkungan internal dibutuhkan suatu mekanisme pemrosesan yang memenuhi komponen tersebut. Solusi yang tepat untuk masalah ini adalah dengan menggunakan sistem informasi yang tepat.

Selain untuk kebutuhan manajemen, sistem informasi yang tepat dibutuhkan juga untuk memperlancar proses bisnis yang ada di dalam perusahaan. Sistem informasi yang terpusat dan digunakan oleh setiap bagian yang ada di perusahaan akan mempercepat pertukaran informasi yang akurat dari dan ke setiap bagian. Dengan demikian, proses bisnis yang terjadi di dalam perusahaan menjadi lebih efektif dan efisien.

Melihat permasalahan dan solusi yang dijelaskan di atas, pperusahaan membutuhkan sistem informasi yang dapat melakukan proses data menjadi informasi yang akurat, lengkap, relevan, dan tetap waktu.

Sumber : http://amn.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=26:kebutuhan-sistem-informasi-dalam-mengelola-perusahaan&catid=6:events&Itemid=23
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kebutuhan Akan Informasi

Persaingan di bidang bisnis pada masa sekarang meningkatkan kebutuhan manajemen akan informasi. Manajemen membutuhkan informasi yang akurat dan cepat yang disajikan dalam bentuk yang informatif sebagai dasar pengambilan keputusan. Informasi yang dibutuhkan berasal dari lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Penguasaan terhadap informasi yang berasal dari kedua lingkungan tersebut sangat penting dalam menentukan strategi yang tepat dalam persaingan bisnis yang sedang terjadi.

Informasi yang berasal dari lingkungan internal didapat dengan melakukan pemrosesan terhadap dokumen-dokumen yang digunakan sebagai pencatatan dan bukti transaksi yang terjadi. Menurut Chuck Williams dalam bukunya yang berjudul Manajemen, informasi akan bermanfaat jika akurat, lengkap, relevan, dan tepat waktu. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari informasi yang berasal dari lingkungan internal dibutuhkan suatu mekanisme pemrosesan yang memenuhi komponen tersebut. Solusi yang tepat untuk masalah ini adalah dengan menggunakan sistem informasi yang tepat.

Selain untuk kebutuhan manajemen, sistem informasi yang tepat dibutuhkan juga untuk memperlancar proses bisnis yang ada di dalam perusahaan. Sistem informasi yang terpusat dan digunakan oleh setiap bagian yang ada di perusahaan akan mempercepat pertukaran informasi yang akurat dari dan ke setiap bagian. Dengan demikian, proses bisnis yang terjadi di dalam perusahaan menjadi lebih efektif dan efisien.

Melihat permasalahan dan solusi yang dijelaskan di atas, pperusahaan membutuhkan sistem informasi yang dapat melakukan proses data menjadi informasi yang akurat, lengkap, relevan, dan tetap waktu.

Sumber : http://amn.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=26:kebutuhan-sistem-informasi-dalam-mengelola-perusahaan&catid=6:events&Itemid=23
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Prinsip Pengembangan Sistem Informasi

Prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut ini:
1. Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen.
Setelah sistem selesai dikembangkan, maka yang akan menggunakan informasi dari sistem ini adalah manajemen, sehingga sistem harus dapat mendukung, kebutuhan yang diperlukan oleh manajemen. Pada waktu Anda mengembangkan sistem, maka prinsip ini harus selalu diingat.
2. Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang besar.
Sistem informasi yang akan Anda kembangkan membutuhkan dana modal yang tidak sedikit, apalagi dengan digunakannya teknologi yang mutakhir.
Sistem yang dikembangkan ini merupakan investasi modal yang besar. Seperti halnya dengan investasi modal lainnya yang dilakukan oleh perusahaan, maka setiap investasi modal harus mempertimbangkan 2 hal berikut ini:
Semua alternatif yang ada harus diinvestigasi
Bila alternatif yang ada diabaikan dan sudah terlanjur menanamkan dana ke suatu proyek investasi tertentu, maka investor akan kehilangan kesempatan untuk menanamkan dananya ke investasi yang lain. Ekonom menyebut hal ini dengan istilah biaya kesempatan (opportunity cost). Misalnya Anda mempunyai dana sebesar Rp X,- dan bila di investasikan ke proyek A akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp A,-, maka Rp A,- ini yang disebut dengan opportunity cost. Bila Anda tidak menginvestasikan dana Anda sebesar Rp X.- tersebut ke proyek A, tetapi ke proyek B, maka proyek B harus memberikan hasil lebih besar dari opportunity costyang hilang akibat tidak diinvestasikan ke proyek A. oleh karena itu dari beberapa alternatip investasi yang ada harus di investigasi untuk menentukan alternatip yang terbaik atau yang paling menguntungkan.
Investasi yang terbaik harus bernilai.
Belum tentu alternatip terbaik merupakan investasi yang menguntungkan. Investasi terbaik ini memang menguntungkan dibandingkan dengan alternatip yang lainnnya, tetapi untuk investasi terbaik ini sendiri harus juga diukur. Investasi ini baru dikatakan menguntungkan bila bernilai yang artinya manfaat (benefit) atau hasil baliknya lebih besar dari biaya untuk memperolehnya (cost). Cost-benefit analysis atau cost-effectiveness analysis dapat digunakan untuk menentukan apakah proyek investasi tersebut bernilai atau tidak.

3. Sistem yang dikembangkan memerlukan orang-orang yang terdidik.
Manusia merupakan faktor utama yang menentukan berhasil tidaknya suatu sistem, baik dalam proses pengembangannya, penerapannya, maupun dalam proses operasinya. Oleh karena itu orang yang terlibat dalam pengembangan maupun penggunaan sistem ini harus merupakan orang yang terdidik tentang permasalahan-permasalahan yang ada dan terhadap solusi-solusi yang mungkin dilakukan. Terdidik disini bukan berarti harus secara formal duduk di perguruan tinggi, tetapi dapat dilakukan secara latihan kerja (on the job training). Analis sistem harus mempunyai pendidikan terhadap masalah yang dihadapinya. Tidaklah mungkin seorang analis sistem akan mengembangkan suatu sistem informasi bisnis tanpa mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang bisnis atau akan mengembangkan sistem informasi akuntansi tanpa mengetahui pengetahuan sedikitpun tentang akuntansi dan teknologi komputer. Bagaimana mungkin nantinya analis sistem ini akan berkomunikasi dengan manajemen dan programmer yang akan membuat programnya. Demikian juga dengan pemakai sistem harus merupakan orang yang terdidik tentang sistem ini dan dapat dilakukan dengan memberikan on-the-job training kepada mereka tentang cara menggunakan sistem yang diterapkan.
4. Tahapan kerja dan tugas-tugas yang harus dilakukan dalam proses pengembangan sistem.
Proses pengembangan sistem umumnya melibatkan beberapa tahapan kerja dan melibatkan beberapa personil dalam bentuk suatu team untuk mengerjakannya. Pengalaman menunjukan bahwa tanpa adanya perencanaan dan koordinasi yang baik, maka proses pengembangan sistem tidak akan berhasil dengan memuaskan. Untuk maksud ini sebelum proses pengembangan sistem dilakukan, maka harus dibuat terlebih dahulu skedul kerja yang menunjukkan tahapan-tahapan kerja dan tugas-tugas pekerjaan yang akan dilakukan, sehingga proses pengembangan sistem dapat dilakukan dan selesai dengan berhasil sesuai dengan waktu dan anggaran yang direncanakan. Siklus atau Daur Hidup Pengembangan Sistem (Systems Development Life Cycle atau SDLC) umumnya menunjukkan tahapan-tahapan kerja dan tugas-tugas kerja yang harus dilakukan. Beberapa methodology pengembangan sistem juga menyediakan lebih terinci konsep kerja yang harus dilakukan dalam proses pengembangan sistem.
5. Proses pengembangan sistem tidak harus urut.
Prinsip ini kelihatannya bertentangan dengan prinsip nomor 4, tetapi tidaklah sedemikian. Tahapan kerja dari pengembangan sistem di prinsip nomor 4 menunjukkan langkah-langkah yang harus dilakukan secara bersama-sama. Ingatlah waktu adalah uang. Misalnya di dalam pengembangan sistem, perancangan output merupakan tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan perancangan file. Ini tidak berarti bahwa semua output harus dirancang semuanya terlebih dahulu baru dapat melakukan perancangan file, tetapi dapat dilakukan secara serentak, yaitu sewaktu proses pengadaan hardware.
6. Jangan takut membatalkan proyek.
Umumnya hal ini merupakan pantangan untuk membatalkan suatu proyek yang sedang berjalan. Keputusan untuk meneruskan suatu proyek atau membatalkannya memang harus dievaluasi dengan cermat. Untuk kasus-kasus yang tertentu, dimana suatu proyek terpaksa harus dihentikan atau dibatalkan karena sudah tidak layak lagi, maka harus dilakukan dengan tegas. Keraguan untuk terus melanjutkan proyek yang tidak layak lagi karena sudah terserapnya dana kedalam proyek ini hanya akan memubang dana yang sia-sia. Ekonom menyebut dana yang sudah terserap ini dengan istilah sunk cost dansunk cost ini tidak relevan untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, karena biaya ini sudahtidak dapat ditarik kembali. Jika proyek yang tidak layak masih terus dilanjutkan lagi, maka dana berikutnya yang terserap akan sia-sia.
7. Dokumentasi harus ada untuk pedoman dalam pengembangan sistem.

Sumber : http://community.gunadarma.ac.id/user/blogs/view/name_arqie_putra/id_10450/title_2-prinsip-pengembangan-sistem-informasi/
ref
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tahapan Pengembangan Sistem Informasi

a. Tahap Kelayakan

Tahap kelayakan untuk mengembangkan sistem informasi yang baru (pertama kali dibuat) atau menggantikan sistem informasi yang lama harus dikaji kelayakannya dari beberapa aspek, diantaranya:

· Aspek Kelayakan Teknis

Aspek kelayakan teknis ini merupakan ketersediaan Teknologi Informasi dan tenaga ahlinya sehingga bisa menjawab “Can we build it?”

· Aspek Kelayakan Ekonomi

Aspek kelayakan eknonomi diperlukan untuk dapat menjawab pertanyaan ini “Will it provide business value?” sehingga bisa meyakinkan “project sponsor” dan manajemen untuk menginvestasikan uangnya dalam pengembangan sistem informasi yang diusulkan.

· Aspek Kelayakan Organisasi

Aspek kelayakan ini diperlukan untuk mendapatkan dukungan sepenuhnya dari pihak organisasi baik tingkat manajemen maupun staff operasional yang akan melakukannya. Jadi intinya adalah

jawaban pertanyaan ini “If we build it, will it be used?”

b. Tahap Investigasi Awal

Jika manajemen sudah menyetujui bahwa pekerjaan ini dapat diteruskan untuk diproses lebih lanjut, maka tahapan berikutnya adalah fact finding yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail dari proses tahapan kelayakan diatas diantaranya adalah:

-Untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan fungsional dari sistem yang sedang berjalan

-Untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan baru untuk sistem yang akan dikembangkan

-Untuk mengetahui batasan-batasan yang diminta misalnya tools yang akan dipakai

-Untuk mengetahui lingkup jenis data yang diperlukan dan volumenya

-Untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang ditemukan pada sistem yang sedang berjalan dan arahan-arahan yang diminta
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pengertian Bisnis

Business is business conducted a series of 1 or more individuals or groups by offering goods and services in order to benefit or profit

Bussines Terms

1. AFFILIATE
is an internet marketing system in which you join a website and be part of the website product marketers, in other words you are acting as agents or intermediaries of a website.

2. RESELLER
is a person who re-sell or sell an affiliate product from a website. You will be given the same special link with the examples above affiliate link.

3. REFERER
Is a person who invites you to join or people who refer a product or website to you.

4. RESELL RIGHTS
This term is interpreted as a product that you can sell back, but your customers may not resell it.

5. MASTER RESELL RIGHTS
Products you may sell your kembali and may give the same rights to consumers who buy.

6. INFLATION
Is the process of rising prices in general and sustained as a result of imbalances in the economy.

7. INTEREST
Payments made to creditors in return for money has been borrowed. Interest payments are distinguished from the loan principal payment of money.

8. EXPORT
Goods and services produced in one country and sold to other countries. Exports include both physical goods and services. Exports valued at market price when the transaction and recorded at the time of shipping (free on board, FOB).

9. IMPORT
Goods and services purchased from a country and used in the country. Including physical goods and services. Imports valued on the basis of market prices at the time of the transaction. Usually imor FOB recorded.

10. INVESTMENT CREDIT
Investment credit is a credit medium or long term for the purpose of purchasing capital goods and services required for the rehabilitation, modernization, expansion, replacement projects and / or creating new projects.

11. CREDIT TO BANKS
Unpaid bills from the monetary authority to commercial banks / creator giral money.

12. CREDIT TO PUBLIC ENTERPRISE
Billing by the banking system against perusahaah-state companies, including bonds (bills), bonds, and bonds issued by, and loans and advances to the state enterprises.

13. CONSUMTION CREDIT
Credit consumption is individual credit for the purpose nonbisnis, including mortgages. Credit consumption is typically used to finance the purchase of a car or consumer goods other durable goods. Mortgage debt or the sale agreement is secured by tangible assets such as land and residential buildings are also included in this category

14. WORKING CAPITAL LOAN
Credit is given to finance working capital. Working capital is a type of financing needed by the company for the operation of daily business.

15. ZERO MINUS TICK
Sales of shares held at the same price with the previous price but lower than the last different price

16. ZERO PLUS TICK
Sales of shares held at the same price with the previous price but higher than the last different price

17. ZERO-COUPN SECURITY
An effect that does not provide periodic interest but are sold at a discounted price of nominal

18. COMMODITY
Merchandise that is the subject of futures contract that
traded on the Futures Exchange

19. CONSOLIDATION
(term capital markets) strengthened the trend is on hold because of the
profit taking action, but generally the stock price will move
up (or vice versa)

20. AUDIT REPORT
Examiner official statements based on the fact that the book ditemukannnya
in accounting research firm

TERJEMAHANNYA

1. Afiliasi
adalah sebuah sistem dalam internet marketing dimana anda bergabung

di sebuah website dan menjadi bagian dari pemasar produk website

tersebut, dengan kata lain anda bertindak sebagai agen atau

perantara dari sebuah website.

2. RESELLER
adalah orang yang menjualkan atau menjual kembali suatu produk

affiliasi dari sebuah website. Anda akan diberikan Link Khusus yang

sama dengan contoh link afiliasi di atas.

3. REFERAL
Adalah orang yang mengajak anda bergabung atau orang yang

mereferensikan suatu produk atau website kepada anda.

4. RESELLER RIGHT
Istilah ini diartikan sebagai Produk yang boleh anda jual kembali,

tapi konsumen anda tidak boleh menjualnya kembali.

5. MASTER RESELL RIGHT
Produk yang boleh anda jual klembali dan anda boleh memberikan hak

yang sama kepada konsumen yang membeli.

6. INFLASI
Adalah proses kenaikan harga-harga secara umum dan berkelanjutan

sebagai akibat adanya ketidakseimbangan dalam perekonomian.

7. BUNGA
Pembayaran yang diberikan kepada kreditur sebagai imbalan atas uang

yang telah dipinjam. Pembayaran bunga dibedakan dari pembayaran

kembali pokok pinjaman uang.

8. EKSPOR
Barang dan jasa diproduksi di suatu negara dan dijual ke negara

lain. Ekspor mencakup baik barang fisik maupun jasa. Ekspor dinilai

sesuai harga pasar pada saat transaksi dan dicatat pada saat

dikapalkan (Free on board, FOB).

9. IMPOR
Barang dan jasa yang dibeli dari suatu negara dan digunakan di

dalam negeri. Termasuk barang fisik dan jasa. Impor dinilai atas

dasar harga pasar pada saat terjadi transaksi. Biasanya imor

dicatat secara FOB.

10. KREDIT INVESTASI
Kredit investasi adalah kredit jangka menengah atau panjang yang

tujuannya untuk pembelian barang modal dan jasa yang diperlukan

untuk rehabilitasi, modernisasi, perluasan, proyek penempatan

kembali dan/atau pembuatan proyek baru.

11. KREDIT KEPADA BANK
Tagihan yang belum dibayar dari otoritas moneter kepada bank-bank

umum/pencipta uang giral.

12. KREDIT KEPADA PERUSAHAAN NEGARA
Tagihan oleh sistem perbankan terhadap perusahaah-perusahaan

negara, termasuk bond (bills), surat berharga, dan obligasi yang

dikeluarkan oleh, dan kredit dan uang muka kepada perusahaan-

perusahaan negara.

13. KREDIT KONSUMSI
Kredit konsumsi adalah kredit perorangan untuk tujuan nonbisnis,

termasuk kredit pemilikan rumah. Kredit konsumsi biasanya digunakan

untuk membiayai pembelian mobil atau barang konsumsi barang tahan

lama lainnya. Hutang hipotek atau persetujuan penjualan yang

dijamin oleh harta berwujud seperti tanah dan bangunan tempat

tinggal juga termasuk dalam kategori ini.

14. KREDIT MODAL KERJA
Kredit ini diberikan untuk membiayai modal kerja. Modal kerja

adalah jenis pembiayaan yang diperlukan oleh perusahaan untuk

operasi perusahaan sehari-hari.

15. ZERO MINUS TICK
Penjualan saham yang diadakan pada harga yang sama dengan harga

sebelumnya tetapi lebih rendah dari harga lain yang terakhir.

16. ZERO PLUS TICK
Penjualan saham yang diadakan pada harga yang sama dengan harga

sebelumnya tetapi lebih tinggi dari harga lain yang terakhir.

17. ZERO-COUPN SECURITY
Suatu efek yang tidak memberikan bunga secara periodik tetapi

dijual dengan potongan dari harga nominalnya.

18. KOMODITI
Barang dagangan yang menjadi subjek Kontrak Berjangka yang
diperdagangkan di Bursa Berjangka

19. KONSOLIDASI
(istilah pasar modal) penguatan trend yang tertahan akibat adanya
aksi profit taking, namun pada umumnya harga saham akan bergerak
naik (atau sebaliknya)

20. LAPORAN AUDIT
Pernyataan resmi pemeriksa buku berdasarkan fakta yang ditemukannnya
dalam penelitian pembukuan perusahaan
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

if conditional sentences

If Conditional Sentence
IF Clause Type 1


Form

if + Simple Present, will-Future

Example: If I find her address, I will send her an invitation.

The main clause can also be at the beginning of the sentence. In this case, don't use a comma.

Example: I will send her an invitation if I find her address.

Note: Main clause and / or if clause might be negative. See Simple Present und will-Future on how to form negative sentences.

Example: If I don’t see him this afternoon, I will phone him in the evening.

Use
Conditional Sentences Type I refer to the future. An action in the future will only happen if a certain condition is fulfilled by that time. We don't know for sure whether the condition actually will be fulfilled or not, but the conditions seems rather realistic – so we think it is likely to happen.

Example: If I find her address, I’ll send her an invitation.

I want to send an invitation to a friend. I just have to find her address. I am quite sure, however, that I will find it.

Example: If John has the money, he will buy a Ferrari.

I know John very well and I know that he earns a lot of money and that he loves Ferraris. So I think it is very likely that sooner or later he will have the money to buy a Ferrari.


IF Clause Type 2


Form

if + Simple Past, main clause with Conditional I (= would + Infinitive)

Example: If I found her address, I would send her an invitation.


The main clause can also be at the beginning of the sentence. In this case, don't use a comma.

Example: I would send her an invitation if I found her address.

Note: Main clause and / or if clause might be negative. See Simple Past und Conditional I on how to form negative sentences.

Example: If I had a lot of money, I wouldn’t stay here.
Were instead of Was

In IF Clauses Type II, we usually use ‚were‘ – even if the pronoun is I, he, she or it –.

Example: If I were you, I would not do this.

Use
Conditional Sentences Type II refer to situations in the present. An action could happen if the present situation were different. I don't really expect the situation to change, however. I just imagine „what would happen if …“

Example: If I found her address, I would send her an invitation.

I would like to send an invitation to a friend. I have looked everywhere for her address, but I cannot find it. So now I think it is rather unlikely that I will eventually find her address.

Example: If John had the money, he would buy a Ferrari.

I know John very well and I know that he doesn't have much money, but he loves Ferraris. He would like to own a Ferrari (in his dreams). But I think it is very unlikely that he will have the money to buy one in the near future.


IF Clause Type 3


Form

if + Past Perfect, main clause with Conditional II

Example: If I had found her address, I would have sent her an invitation.

The main clause can also be at the beginning of the sentence. In this case, don't use a comma.

Example: I would have sent her an invitation if I had found her address.

Note: Main clause and / or if clause might be negative. See Past Perfect and Conditional II on how to form negative sentences.

Example: If I hadn’t studied, I wouldn’t have passed my exams.

Use
Conditional Sentences Type III refer to situations in the past. An action could have happened in the past if a certain condition had been fulfilled. Things were different then, however. We just imagine, what would have happened if the situation had been fulfilled.

Example: If I had found her address, I would have sent her an invitation.

Sometime in the past, I wanted to send an invitation to a friend. I didn't find her address, however. So in the end I didn't send her an invitation.

Example: If John had had the money, he would have bought a Ferrari.

I knew John very well and I know that he never had much money, but he loved Ferraris. He would have loved to own a Ferrari, but he never had the money to buy one.
Example
1.If I miss the buss this afternoon, I'll get the taxi.
2.If I had more money, would have you marry me?
3.Please don't sign this contract before I check them.
4.You would have a lot of friends, if you didn't so mean.
5.If she had bought a new house, she would have be happy.
6.If I find her address, I’ll send her an invitation.
7.I would have sent her an invitation if I had found her address.
8.If John has the money, he will buy a Ferrari.
9.If I were you, I would not do this.
10.If I had a lot of money, I wouldn’t stay here
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS